Disbudpar Maros
BERITA

Pameran ‘Maros Tempo Doeloe’ Hadirkan Bukti Peradaban Zaman Purbakala

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbupar) Kabupaten Maros menghadirkan berbagai benda-benda zaman dahulu, seperti alat pemotong padi, alat tenun, alat tranportasi serta foto-foto Maros zaman dulu.

Benda-benda zaman dahulu itu dihadirkan dalam pameran bertajuk ‘Maros Tempo Doeloe’. Di antaranya ada sepeda ontel milik pagandeng, bendi, becak, badik, keris, uang koin serta lainnya.

Pameran digelar di kawasan taman wisata alam Bantimurung Maros, sejak Sabtu dan Minggu, 14 dan 15 November 2020.

Pameran ini juga menghadirkan benda-benda purbakala yang pernah ditemukan di Maros, seperti replika kerangka manusia purba yang ditemukan di Keang Jarie, yang disebut ‘Manusia Maros’ dan mata panah purba yang diberi nama ‘Maros Poin’.

Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Maros, Andi Rosmiati mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk menarik minat wisata sekaligus edukasi kebudayaan, sebagai rangkaian kegiatan sosialisasi Museum Daerah Maros.

“Kegiatan ini kita namakan pameran temporer ‘Maros Tempo Doeloe’. Pengunjung yang masuk ke Bantimurung tidak hanya menikmati air terjun dan suasana alam saja, tapi juga sekalian seperti masuk museum,” ungkapnya, Senin (16/11/2020).

Kegiatan ini bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) non fisik pelayanan bidang pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI.

Selain pameran, digelar pula lomba menabuh gendang tradisional Bugis Makassar dari beberapa sanggar seni yang ada di Maros. Ditampilkan untuk menghibur para pengunjung wisata alam Bantimurung ini. Lokasi lomba sengaja dibuat di dekat air terjun.

“Jarang-jaranglah orang mandi bisa dihibur langsung dengan penampilan gendang tradisional. Lomba ini juga sudah pernah kita lakukan tahun lalu dan sengaja kita buat lagi tahun ini agar kegiatan budaya tetap bisa dilestarikan,” tambahnya.

Pameran dan lomba ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang ingin menikmati suasana alam di objek wisata tertua di Sulsel ini.

Mereka mengaku terhibur dengan alunan musik tradisional yang dihadirkan di tempat ini.

“Ya seru, biasaya kita masuk ke sini hanya mandi saja. Karena ada pameran dan lomba, kita bisa sekalian belajar juga benda purba dan tempo dulu yang sudah tidak kita kenali lagi,” kata Putri, seorang pengunjung. (*)

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *